Nama Mata Kuliah : Sejarah Sastra

Judul : Meresume Novel Karya Pengarang Angkatan 4

Nama : Badiatunnisak

Npm : 21882010111

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.




Identitas Buku

Judul Bukku : Anak Semua Bangsa

Penulis Buku : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

Cetakan : 12 Januari 2010

Isi : 535 hlm

ISBN : 979-97312-4-0

Editor : Astuti Ananta Toer


“ANAK SEMUA BANGSA”.


Cerita ini diawali  dengan kisah Annelis yang harus pergi ke negeri Belanda atas perintah pengadilan berdasarkan tuntutan Ir. Maurits Mellema. Kejadian inid dikisahkan lewat surat-surat Panji Darman kepada Minke dan Nyai Ontosoroh. Diceritakan bahwa Annelis sakit keras selama di perjalanan. Sesampainya di Belanda, ia meninggal dunia pasca beberapa hari dirawat di rumah sakit.

Buku ini juga, menggambarkan kondisi rakyat Indonesia yang menderita akibat kekejaman Belanda, saat diberlakukannya sistem tanam paksa oleh penjajah yang kemudian hasil taninya akan diberikan secara Cuma-cuma kepada pabrik gula yang didirikan bangsa Eropa, tidak hanya tanam paksa, para penjajah juga. Menggambarkan penderitaan rakyat Jawa dibawah pemerintahan Belanda yang licik dan haus kekuasaan. Dari sudut pandang Minke, seorang penulis pribumi yang begitu mendewakan Eropa, kita dapat melihat kembali sejarah bangsa Indonesia, serta bercermin melihat diri sendiri. Kita diajak menelusuri pikiran Minke yang terombang-ambing dalam keyakinannya, sampai akhirnya sadar bahwa ia harus turun dan memperhatikan bangsanya sendiri. 

Dimana dengan meninggalnya Annelis membuat Minke dan Nyai Ontosoroh  benar-benar terpukul. Tapi keduanya bertekad untuk terus berjuang. Dunia dan bangsa-bangsa yang ada di dalamnya dipengaruhi oleh para teman-temannya yang kebanyakan orang Eropa, karena ia sendiri adalah lulusan HBS. Ia sering berkirim surat dan bertukar pikiran dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert), Salah satu sahabatnya, Jean Marais, adalah seorang seniman berkebangsaan Prancis. 

Suatu hari ia meminta Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu, dengan tujuan agar bangsanya sendiri dapat membaca karya Minke. Minke terkejut dan merasa terhina, ia merasa rendah apabila harus menulis dalam Melayu. Karena percakapan ini, hubungannya dengan Marais menjadi dingin. Hanya karena Maysaroh, anak Jean, Minke akhirnya mau berbaikan dengan Jean.

Selanjutnya, Minke diminta Maarten Niijman, atasannya di S.N. v/d D., Untuk mewawancarai Khouw Ah Soe dalam Bahasa Inggris, seorang aktivis dari cina yang berusaha membangunkan bangsanya dari mimpi-mimpi mereka. Ia dapat melihat Jepang mulai menyamai kedudukan negara-negara Eropa. Tetapi betapa terkejutnya Minke, saat harian itu terbit, yang tercetak berbeda sekali dengan wawancara dan tulisan yang telah ia kerjakan! Artikel tersebut berisi tuduhan pada Khouw Ah Soe yang mengatakan dirinya seorang pelarian.

Kejadian ini menyadarkan Minke bahwa Eropa yang selama ini ia agung-agungkan tidak selamanya benar. “Eropa tidak lebih terhormat daripada kau sendiri, Nak! Eropa lebih unggul hanya di bidang ilmu, pengetahuan dan pengendalian diri. Lebih tidak,“ jelas Mama kepadanya. “Kalau mereka bisa disewa siapa saja yang bisa membayarnya, mengapa iblis takkan menyewanya juga?” sepertinya semesta belum mengijinkan Minke untuk tenang, karena setelah itu Kommer, teman Jean Marais, mendukung apa yang telah Jean katakan sebelumnya. Selama ini Kommer telah menerjemahkan tulisan Minke ke dalam bahasa Melayu. Kommer mengatakan bahwa Minke tidak mengenal bangsanya sendiri, karena selama ini ia melihat keadaan dari kacamata Eropa. Minke tidak terima dikatai seperti itu, tapi ia tidak dapat membuktikan sebaliknya juga. 

Karena masih diselimuti kesedihan, Minke dan Mama lalu memutuskan untuk berlibur ke tulangan, Sidoarjo, kampung halaman Mama. Mereka menginap di rumah Sastro Kassier, saudara Mama. Mata Minke menjadi terbuka akan kenyataan bangsanya. Dulu Mama dijual untuk menikahi Tuan. Administratur Mellema. Kini Surati, anak Sastro Kassier, terpaksa menikahi Tuan Administratur Vlekkenbaaij karena jebakan orang Belanda itu. Untungnya Surati sengaja menularkan cacar dari kampung sebelah pada Vlekkenbaaij. Jadilah Vlekkenbaaij meninggal, dan Surati yang dulu jelita kembali ke rumah dengan borok di wajahnya. Kepercayaan Minke akan Belanda mulai pudar, ia makin bertekad untuk mengenal bangsanya. Maka menginaplah ia selama beberapa hari di rumah salah satu petani, Trunodongso, yang tinggal bersama dengan istri dan empat anaknya. Trunodongso bercerita kepadanya mengenai kecurangan-kecurangan pemerintah Belanda yang sering memaksa dan tidak menepati janji, sementara para petani tidak bisa berbuat apa-apa untuk menuntut hak mereka. Minke berjanji pada Trunodongso akan membantunya dengan jalan menuliskan penderitaannya. Selain itu ia juga menulis tentang Surati. Tetapi saat ingin menerbitkan tulisannya tentang Trunodongso, Niijman menolak. Minke putus asa, memutuskan melanjutkan studinya di Betawi untuk menjadi dokter. Di tengah perjalanan di laut, ia bertemu dengan Ter Haar yang menceramahinya cara kerja dan tujuan penjajahan Belanda di Hindia. Minke hampir berkunjung ke kantor koran lokal di Semarang untuk menulis lagi. Sayang, ia malah dijemput polisi untuk kembali ke Wonokromo, rumah Mama. Pada satu malam, Nyai dan Minke mendapat kabar meninggalnya Kow Ah Soe saat pemuda tersebut mencoba meneruskan misinya di Indonesia. 

Dalam suasana berkabung, tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk. Dan ternyata, Truno yang datang dengan luka menganga di tubuhnya akibat bentrok dengan pabrik gula belanda. Nyai bersedia membantu keluarga petani itu. Apalagi setelah tahu bahwa modal usaha dari suaminya dulu kemungkinan besar berasal dari dirampasnya tanah kaum tani. Nyai Ontosoroh berpikir bahwa pabrik tersebut berhutang pada semua petani yang digusur suaminya saat menjabat menjadi pimpinan pabrik Tulangan. Selain bertekad menampung keluarga Truno, ia juga bertekad membuatkan sekolah untuk kaum tani.

Pada saat itu juga, secara mengejutkan Nyai meminta Minke untuk ke Batavia dan melanjutkan sekolah di sana. Minke menyetujui rencana dadakan tersebut dengan senang meski bimbang melihat Nyai harus mengurus Truno sendiri. Tapi ia tetap berangkat. Sayangnya, belum lama ia di kapal, ia diminta untuk kembali. Ada sesuatu dari Nyai yang sangat mendesak: Ir. Maurits Mellema datang ke Hindia Belanda dan kemungkinan besar akan merampas harta Nyai Ontosoroh dan pabriknya. Tak punya pilihan lain, Minke akhirnya kembali ke Buitenzorg Wonokromo. Tapi tahu bahwa mereka akan kalah, Minke hanya memanggil sahabatnya (Jean dan Kommer) untuk menyambut kedatangan Ir. Maurits Mellema. Ketika yang bersangkutan datang (sekaligus untuk mengembalikan pakaian Annelis yang tertinggal di Belanda), Minke, Nyai, sampai Jean mengkonfrontir orang tersebut.

Minke dan ibunya sering ditahan untuk tidak keluar rumah selama beberapa hari oleh penjajah, hingga pada akhirnya ibunya menyadarkan Minke bahwa watak bangsa penjajah, sangat jahat dan licik. Berilmu tinggi tetapi perilaku mereka amat sangat buruk, jika penjajah berbuat baik kepada rakyat pribumi, pasti ada maksud tertentu, yang pastinya akan merugikan bangsa Indonesia.

Hal tersebut membuat Minke ingin bangkit dari keterpurukan, ia mencoba menulis surat kabar kepada seluruh rakyat akan tetapi selalu ditolak oleh Belanda. Akibat dari banyaknya keburukan dan ketidakadilan yang dilakukan pihak-pihak penguasa dan dibukakan dalam karya ini, menjadi sebuah tamparan keras kepada mereka yang terlibat langsung dan yang paling bertanggung jawab menjadikan bangsa ini, rakyat di bangsa ini sebagai budak yang dapat diperlakukan semena-mena ditanah airnya sendiri. Jelas ketidakadilan diterapkan dengan sangat bebas. Kebenaran ditutup rapat baik melalui media-media/pers yang seharusnya pro rakyat dan pro realita.

Dari kondisi ini akhirnya seorang muda disadarkan akan kondisi yang sangat berbanding terbalik dari sekolahnya yang dibangun oleh pihak Belanda dan dipandang terhormat dan tidak sembarangan. Minke, mulai menjajaki peristiwa demi peristiwa yang dialaminya ketika bermula dari karirnya sebagai seorang penulis dikoran punya Belanda. Sedikit demi sedikit dia dipaksa untuk lebih lagi mencoba keluar dari kondisi nyamannya selama ini. Orang-orang terdekatnya menjadi sumber-sumber kegelisahan yang semakin memuncak dalam benaknya.

Ketika dalam satu sisi, ia membangga-banggakan Belanda disisi lain orang terdekatnya mencemoohnya sebagai seorang yang tidak perduli akan bangsanya, aakan nasib para kecil serta keterjajahan yang dialami rakyat jelata. Bagi Minke, persoalan ini sungguh bertentangan dengan apa yang dia pelajari digedong sekolah yang terpandang itu.Sungguh dia merasa sangat bodoh dan tak tahu apa-apa tentang bangsanya selain hanya mengagumi revolusi prancis dan membangun karirnya untuk bangsa kolonial, bangsa Belanda. Pergolakan yang juga tak kalah serunya adalah ketika dia menyadari bahwa orang-orang berintelek, berilmu dan berkuasa ternyata menjadi dalang dari kesengsaraan bangsanya.

Sehingga dia mulai mencoba untuk keluar dari pola pemikirannya yang hanya searah dan tak objektif itu menjadi sebuah referensi baginya untuk membeberkan realita yang terjadi dibalik kemunafikan dan kebohongan-kebohongan yang dilakukan terhadap rakyat bangsanya.

Novel ditutup dengan Maurits Mellema menunda pengusiran mereka dari rumah. Melewati peristiwa-peristiwa tersebut, bertemu dengan berbagai macam orang dan opininya masing-masing, telah mengubah total cara berpikir Minke. Eropa dulu diagung-agungkannya, Eropa tak pernah salah, Eropa bisa maju dengan ilmu pengetahuannya, sedangkan pribumi hanya bisa disuruh. Dengan bantuan sahabat-sahabatnya, pada akhirnya ia melihat juga kebusukan-kebusukan Eropa. Ia belajar, ternyata sikap seseorang tidak ditentukan oleh kebangsaannya. Ia sadar, sebagai pribumi yang terpelajar yang menguasai banyak bahasa, ia merupakan salah satu dari segelintir yang bisa menggerakkan dan memajukan bangsanya sendiri.