Ringkasan Novel Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma

Nama : Diah Rumini

Npm : 2188201021

Mata Kuliah : Sejarah Sastra

Program Studi : Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia.

Judul Buku : Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma

Penulis Buku : Idrus

Penerbit :Pusat Bahasa

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2010

Halaman Buku : 176

ISBN : 979-4070218-4


Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma.


Ave Maria 

        Di malam bulan purnama raya. Ada sebuah keluarga sedang bercengkraman di beranda rumah, mereka mengenang kejadian berpisah dengan zulbahri, seorang laki-laki aneh. Saat pertama bertemu keluarga tersebut sedang duduk bersama, ketika itu datanglah seorang lelaki, yang tahu-tahu memberi hormat lalu masuk dan mengambil majalah tua, dan meninggalkan buku filsafat. Zulbahri datang setiap hari dan setiap ia datang keadaannya selalu lebih baik dari sebelumnya. Ia ternyata seorang pengarang, dan bukunya banyak juga yang diterbitkan.

    Telah lama Zulbahri tidak datang, kurang lebih seminggu lamanya. Sampai suatu hari, Zulbahri datang dan saat Ibu bertanya kepadanya mengapa ia lama tidak berkunjung. Tanpa diduga , Zulbahri menceritakan kisah yang memilukan. Demikian kisahnya. 

    Zulbahri telah menikah dengan Wartini selama delapan bulan, meskipun belum ada tanda-tanda akan segera mempunyai anak, namun mereka saling mencintai. Karangan Zulbahri makin lama makin mendapat perhatiaan umum dan para ahli. Namun entah kenapa, dalam hati Zulbahri terbesit pikiran bahwa tak lama lagi kebahagiaan ditukar dengan kesengsaraan. Kesengsaraan mulai muncul saat Zulbahri mendapat surat dari adiknya, Syamsu. Zulbahri pun membicarakan kecemasannya dengan Wartini. Namun wartini meyakinkan Zulbahri bahwa Ia akan tetap mencintai Zulbahri dan tidak goyah hatinya bila bertemu syamsu nanti.  

    Syamsu pun datang. Meskipun perkataan dan perilaku Syamsu tetap sopan, entah kenapa Zulbahri cemas. Suatu malam, Zulbahri pura-pura tidur, terdengar Wartini dan Syamsu sedang bermain musik bersama. Mereka memainkan lagu Ave Maria. Sesudah habis lagu itu dimainkan, terdengar dikamar, Wartini sedang menangis, entah apa penyebabnya. Wartini dan Syamsu sedang membicarakan suatu hal. Sepertinya Zulbahri ingin mengetahui apa penyebab istrinya menangis, lalu Ia menghampirinya. Kejadian itu membuat suatu keputusan dalam diri Zulbahri untuk meninggalkan istrinya itu bersama adiknya. Karena Zulbahri merasa dirinya tak pantas mendapat Wantini dan waktu itu Ia seperti perampok hati Wartini dari sis Syamsu.

    Zulbahri pun keluar rumah, meninggalkan kota Jakarta menuju Malang.Zulbahri mencoba melupakan Wartini, tetapi tidak dapat. Badannya makin lama makin kurus, sampai membuatnya masuk rumah sakit selama tiga bulan. Ia kembali ke rumahnya untuk menengok sebentar, dan kedua sejoli itu tampak bahagia, ditambah Wartini sedang hamil.

    Dari situlah Zulbahri bertemu keluarga tersebut, di mana ia meminjam majala, yang menyadarkannya tentang keadaan tanah air yang sebelumnya ia biarkannya. Selesai bercerita, Zulbahri memberikan kertas yang berisi bahwa ia masuk barisan jibaku. Semua ini dilakukan sebagai penebusan atas keegoisannya selama ini.   


Kejahatan Membalas Dendam

    Di sebuah jalan di Jakarta, tampak sepasang kekasih sedang bertemu. Mereka adalah Ishak, seorang pengarang dan penerbit buku, dan Satilawati, seorang juru masak sekaligus tunangan dari Ishak. Ishak bertemu dengan Satilawati karena ia hendak pamitan. Karangannya yang berupa roman dikritik Pak Orok, karena kesalahpahaman Pak Orok dalam mengarti maksud roman tersebut membuatnya tak tahan lagi. Meskipun telah ditahan-tahan oleh Satilawati,bahkan kedua teman Ishak, Asmadiputera dan Kartili, Ishak tetap pergi.

    Keinginan memisahkan Ishak dan Satilawati, membuat kartili berbuat jahat dengan memberitahu kebohongan kepada Satilawati bahwa keluarga Ishak mempunyai penyakit kejiwaan, dan kemungkinan Ishak juga. Namun Satilawati tetap yakin bahwa Ishak akan kembali normal. Kartili telah mencelakai Ishak dengan memberikan obat gila agar Ishak meninggalkan Satilawati.

    Sementara itu, Pak Orok ayah Satilawati memanggil bibinya untuk datang ke rumah. Pak Orok hendak meminta bibinya untuk mengandaskan cinta anaknya kepada Ishak. Namun bibinya tidak setuju dengan permintaan Pak Orok dengan alasan Satilawati sangat mencintai Ishak.

    Satilawati kemudian bercakap-cakap dengan bibi ayahnya, yang dipanggilnya nenek. Ia meminta tolong neneknya untuk menyembuhkan Ishak, karena neneknya seorang dukun yang masyhur.

 Asmadiputra menemui Pak Orok untuk membahas kritik Pak Orok mengenai roman yang dibuat Ishak. Asmadiputera terlibat perdebatan yang cukup sengit dengan Pak Orok. Asmadiputera membela roman yang dikarang oleh Ishak sebagai bentuk kesustraan Indonesia baru. Perdebatan yang baru saja terjadi membuat Pak Orok termenung.

Nenek Satilawati diusir pergi oleh Pak Orok. Karena menolak permintaannya, sehingga membuat nenek Satilawati terpaksa kembali ke rumahnya. Selama Ishak pergi, ternyata Ishak tinggal di rumah nenek Satilawati. Di sana, Ishak memcoba memberi semangat kepada petani yang harus menyerahkan hasil panenya kepada pemerintah. Meskipun gagal karena orang desa itu bisa berbahasa Indonesia. 

Rumah nenek kembali dikunjungi orang. Kali ini Kartili. Ia mencoba meminta tolong nenek, meskipun terungkap bahwa kartili ternyata berbohong. Ia bahkan berusaha meracuni nenek. Beruntungnya Satilawati dapat menggagalkan rencana tersebut. Hal berikutnya terungkap, kalau ternyata Kartili yang membuat Ishak sakit. Karena kejahatannya terungkap, Kartili kemudian melarikan diri. Sementara nenek berusaha membujuk Satilawati untuk kembali ke rumah ayahnya.

Akhirnya, para petani desa kembali semangat bekerja berkat pidato Ishak, yang dibantu Nenek Satilawati dalam menerjemahkan pidato Ishak agar bisa dimengerti petani. Ishak sendiri juga akhirnya menyadari bahwa yang semua yang tarjadi pada dirinya disebabkan kerena Kartili mencintai Satilawati. Ayah Satilawati kini memperbolehkan anaknya mencintai Ishak. Sementara Kartili mendapat balasan yang setimpal, kini ia sendiri yang gila. Setiap malam tidur di beranda nenek, kemudian pergi begitu saja.


Kota-Hormoni

        Trem penuh sesak dengan orang-orang dan bau keringat ditambah lagi bau terasi yang tidak sedap. Seorang perempuan muda Belanda-Indo mengeluh bau terasi dari seorang Tionghoa. Orang Tionghoa marah-marah pada perempuan Belanda-Indo tersebut. 

    Seorang perempuan tua dimarahi kondektur karena ia berada di kelas satu, tempat khusus untuk para Nipon. Kondektur itu menyuruh perempuan tua untuk ke kelas dua, dimana di trem sana terlalu sempit dan sesak. Didalam trem penuh sesak orang-orang yang berdesakan bahkan sulit untuk menghirup udara segar. Orang-orang akan merasa lega ketika orang-orang dan kembali sesak ketika orang-orang naik lagi. Seorang Nippon datang dengan kuasanya menyuruh orang minggir untuk memberikan jalan. Seorang anak jengkel, dihampirinya dan anak muda itu hanya diam.

    Kondektur meminta karcis saat tiba di Harmoni,dan banyak orang kini sudah mendapat tempat duduk. Beberapa orang naik lewat jendela termasuk orang Nippon. Orang Indonesia yang melihatnya itu menegur orang Nippon itu dan akhirnya mereka beradu mulut. Sampai datanglah kenpetai yang memarahi orang Nippon itu, sedangkan orang Indonesia merasa senang.


Jawa Baru

    Dimana-mana orang mengeluh akan sulitnya hidup, mahalnya harga barang dan setiap orang menyalahkan Nipon. Orang-orang Indonesia hanya mendapatkan beberapa bagian makan sedangkan orang-orang Nippon mendapatkan lebih. Dijalan banyak orang kelaparan dan akhirnya mati, mulai dari anak yang telanjang, para perempuan jalang Belanda-Indo hingga anak berbaju, semua mati.

Surat-surat kabar penuh dengan kabar perang, tetapi surat kabar itu kosong tidak ada surat kabar yang menjelaska keadaandan kesusahannya orang-orang Indonesia. Bahkan jurnalis-jurnalis setiap hari disuruh ke mana-mana untuk melihat keadaan di sekeliling kota, tetapi yang ditulisnya hanya tentang kemakmuran bersama. 

Pemerintah Nippon seakan tak peduli, Jawa Hokaido mengedakan rapat tentang penambahan pasokan bahan-bahan pokok tanpa melihat keadaan orang-orang Indonesia. Orang-orang jawa hanya bersabar dan menerimanya dengan lapang dada. Mereka semua hanya menengadahkan tangan ke langit dan meminta rezeki dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun semua orang bertanya kepada Tuhan, apakah ia lupa memeberi rejeki?.


Pasar Malam Zaman Jepang

    Orang-orang berduyun-duyun pergi ke pasar malam Rakutenci. Pasar malam selalu ramai, khususnya di tempat penjualan karcis. Banyak orang berdesak-desakan. Seorang anak bernama Amin, mengejek kerumunan orang-orang itu. 

    Pasar malam dengan tempat gelap disiapkan untuk pengunjung. Di rumah rumah makan terdengar suara musik, diruangan barisan propagandaterlihat ban kapal tempur yang sengaja diperlihatkan serta baju bogor. Di ruang rolet, mata mereka terpaku pada orang Indonesia yang kurus kering. Namanya Gandhi, ia sedang main rolet, naamun ia kalah dalam permainan. Ketika tidak ada uang lagi dikantungnya, ia menjual satu persatu yang melekat pada dirinya. Ia pun akhirnya melarikan diri. Beberapa hari terdengar kabar orang bunuh diri karena kalah rolet.


Sanyo

    Kadir duduk berjam-jam di bawah radio umum sambil berjualan kacang namun tidak laku juga. Ia hanya mendengarkan radio umum tentang pecah sebagai ratna,pengangkatan sanyo. Kadir pun bingung dengan arti kata sanyo. Lalu datang seorang tukang es hendak membeli kacang, namun kadir memberikan kacang yang kecil dan ada kacang tak berisi. Sampai ketika ada seorang laki-laki datang untuk membeli kacang kadir, diberikannya kacang namun tidak berisi dan akhirnya laki-laki itu dengan marah melemparkan kulit kacang kepadanya dan pergi. Kadir masih memikirkan tentang sanyo, lalu ia berfikir kalau sanyo adalah tukang catut. Ditanyalah seseorang laki-laki yang hendak membeli kacang. “Apakah sanyo adalah tukang catut” ujarnya. Mendengar itu laki-laki tadi marah dan membawa Kadir ke kantor polisi.



Fujinkai

    Nyonya Sastra menjadi tuan rumah dalam pertemuan Fujinkai di kampong A, sehingga ia terlihat sangat sibuk sekali, seperti ia henda k mengawinkan anaknya. Nyonya Satra membuka rapat dengan banyak kata-kata dan membuat anggota merasa bosan, sampai membuat Nyona Waluyo pamit pulang karena kesal. 

    Nyonya Sastra terus juga bicara, segala isi surat kabar harian yang keluar pada akhir-akhir ini pun Ia bahas, tentang pembagian beras yang diatur pemerintah bala tentara. Dimana setiap orang mendapat seperlima liter sehari. Sepertinya Nyonya Salim kurang setuju dengan pembagian beras tersebut dan meminta belas kasihan dari Nyonya Sastra, namun Nyonya Sastra tidak menolongnya. Akhirnya Nyonya Salim pulang dengan hati kecewa.

    Terlihat Nyonya Joko dan Nyonya Surya duduk agak jauh dari Nyonya Sastra, yang sedang asik berbicara. Nyonya Joko menceritakan tentang kesusahan hidupnya kepada Nyonya Surya, namun Nyonya Surya malah menyombongkan hidupnya yang tidak sesusah Nyonya Joko. Saat anggota lain mulai kesal dengan Nyonya Satra yang terlalu banya bicara dan pamit hendak pulang. Nyonya Satra akhirnya menjelaskan inti dari rapatnya, bahwa ia meminta sumbangan para anggota. Namun banyak anggota yang marah dengan sikap Nyonya Sastra. Akhirnya rapat itu pun bubar

Oh… Oh… Oh…

    Di stasiun Sukabumi. Ada orang Indonesia yang sudah lama antri selama setengah jam, tidak dilayani oleh tukang jual karcis. Namun Seorang Tionghoa, yang hanya karena mendapat surat pas dari sikuco, diperbolehkan menerobos antrian.

    Kereta berangkat dari Sukabumi menuju Jakarta, Orang Tionghoa dan Nona Belanda Indo duduk di kelas dua dengan nyaman, tidak seperti orang-orang di kelas tiga dan empat yang harus berdesak-desakkan. Kereta berhenti di stasiun kecil dan beberapa anak muda tak berpakaian masuk ke kereta, mereka keibon yang memeriksa orang-orang yang membawa beras lalu dipukuli dan mengambil berasnya. Sebungkus beras tak diambil karena punya seorang agen polisi, anak-anak muda itupun memberi hormat dan pergi. Waktu kereta api hendak berangkat, naiklah seorang orang Arab, ia melihat seorang anak muda dengan keadaan baju robek-robek dan kakinya sebelah kiri dari kayu, hendak duduk ditangga. Dekat stasiun Bogor kereta api berjalan dengan cepat, hingga membuat tangan orang yang berkaki sebelah tersebut terlepas dan jatuh mati.

Agen polisi meminta beras pada perempuan disampingnya agar berasnya aman di Jakarta. Sesampainya di Jakarta agen polisi tidak mengembalikan beras perempuan itu, sehingga perempuan itu menangis.   


Heiho

    Kartono sesosok orang yang rajin bekerja. Selama tiga tahun ia selalu semangat bekerja walaupun gajinya kecil, ia tidak pernah membolos dan tak pernah sekalipun mendapatkan penghargaan. Bbeberapa bulan yang lalu, ia pun mencalonkan menjadi Heiho. Opas pos memberikan selembar kertas yang menyatakan lulus menjadi Heiho. 

    Di asrama Heiho, Kartono diberikan pakaian Heiho. Ia pulang dengan wajah gembira dan sesampainya di rumah Kartono menyampaikan pada istrinya,namun Miarti tak terima Kartono menjadi Heiho dan berat hati Miarti harus melepaskan suaminya untuk menjadi Heiho.


Kisah sebuah Celana Pendek

    Tepat pada hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno merasa senang karena mendapat celana kepar 1001 dari ayahnya. Pada waktu itu Kusno berusia 14 tahun dan baru tamat sekolah rakyat. Setelah mendapat celana baru Kusno melamar pekerjaan dimana-mana. Pada akhirnya Kusno menjadi Opas pos yang digaji sepuluh rupiah perbulan. Kusno bekerja dengan rajin, tetapi celana 1001-nya makin lama makin pudar, karena sering kena cuci. Setiap bulan ia berharap akan dapat membeli sebuah celana baru, tetapi uang sepuluh rupiah itu untuk makan saja pun tidak mencukupi. Akhirnya ia berhenti menjadi opas.

Pada suatu hari Kusno sakit kepala, karena dua hari dua malam ia tidak makan. Kusno berpikir akan menjual celana 1001 itu, guna membeli sekedar makanan untuk mengisi perutnya, namun diurungkannya. Sebab jika celana itu dijualnya, maka kusno tidak bisa menutup auratnya. Kusno berpikir kenapa selalu ada perang dan ia merasa sebagai seorang yang dikorbankan.


Surabaya

    Waktu beberapa orang Belanda-Indo berani memasangkan bendera merah putih biru di hotel Yamato, orang-orang Indonesia tercengang dan mendekati hotel itu. Tiba-tiba seorang pemuda naik keatas tiang bendera dan dirobeknya kain biru. Orang-orang Belanda-Indo marah-marah dan menembaki orang-orang seperti koboi yang memegang belati. Disana para pemuda berjuang mati-matian untuk mempertahankan Surabaya walaupun perut mereka lapar tapi semangat mereka tetap membara. Walaupun pada akhirnya mereka kalah dan harus dipukul mundur dari Surabaya. Banya rumah-rumah mereka dibakar, harta mereka yang habis dan para orang yang dikasihinya mati. Mereka yang menjadi pelarian dari Surabaya hidup dengan susah banyak dari mereka yang menjadi gila mati kelaparan dan sangat mengenaskan.


Jalan Lain ke Roma

    Open pada mulanya adalah seorang guru sekolah rakyat. Open selalu direndahkan dan dihina oleh muridnya. Para muridnya selalu menghina ia dengan menyebut guru goblok. Itu semua berawal dari ia memegang teguh kata-kata ibunya, untuk selalu terus terang dalam segala hal. Sehingga menyebabkan ia selalu bercerita kepada orang apa yang ia alami. Ia bahkan bercerita kepada muridnya tentang perselisihannya dengan istrinya. Hingga ia dikeluarkan dari sekolah tempatnya mengajar karena memukul siswa yang mengoloknya setelah mendengarkan ceritanya. Karena hal inilah pula, ia bercerai dengan istrinya. Open menjadi mualaf, ketika ia membeli Al-Quran terjemahan Moh. Yunus dan menjadi seorang guru ngaji di desanya. Di sana, ibunya menikahkannya dengan seorang gadis bernama Surtiah. Ia pun kemudian kembali ke kota dan menjadi pengarang di sana. Surtiah akhirnya kembali ke desa, karena Open tidak mendapatkan penghasilan. Ketika pusat kebudayaan Jepang mengadakan sayembara dongeng-dongeng, Open ikut serta dalam sayembara tersebut. Karena karya Open merasamenyinggung pemerintah, ia pun ditangkap dan dipenjarakan. Setelah keluar dari penjara, ia sadar bahwa ia dulu egois. Ia kemudian menulis surat pada orang tuanya dan Surtiah. Mereka kemudian datang. Surtiah sangat gembira melihat perubahan pada suaminya. 



Post a Comment

0 Comments