Ringkasan Novel Midah Si Manis Bergigi Emas Karya Pramoedya Ananta Toer

Nama : Darnia Asmara

Npm : 2188201026

Mata Kuliah : Sejarah Sastra

Program Studi : Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Judul : Meresum Novel Angkatan 45



Identitas Buku

Judul Buku : Midah Si Manis Bergigi Emas

Penulis Buku : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara 

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2003

Halaman : 134 

ISBN : 979-973¹²-7-5


Midah Si Manis Bergigi Emas


Buku Pramoedya ini menggambarkan perjalanan hidup seorang wanita tokoh utamanya (Midah), yang begitu menyentuh. Midah seorang gadis manis, kulit nya kuning, wajahnya agak bulat, Cantik paras nya, lentik suaranya dan kuat hatinya.


Anaknya Haji Abdul pedagang dari kampung Cibatok tetapi sudah tinggal di Jakarta. Kehadirannya di dunia ini begitu dinanti oleh kedua orang tuanya, sebelum lahir adik-adiknya, Midah begitu dimanja dan dikasihi orang tuanya. Tetapi begitu adik-adiknya lahir, kasih sayang dan kemanjaan yang dulu sempat dikecapnya tak pernah dirasakannya lagi. Hingga pada akhirnya ia mencari sendiri kebahagiaan diluar rumah. Kesenangannya akan musik juga berubah jalur, dimana semenjak kecil ayahnya selalu memperdengarkan lagu-lagu Umi Kalsum, Midah pun mulai menyukai lagu-lagu keroncong yang lebih mengena dihatinya, dan bakatnya adalah menyanyi, Empat piringan telah dibeli dan dalam sehari midah telah hafal delapan buah lagu dengan tidak menyalahi irama. Sang ayah yang merasa tidak sesuai dengan selera musik Midah, Sangat marah dan merusak koleksi piringan hitam lagu-lagu keroncong Midah yang begitu ia cintai dan baru saja kemarin ia beli, hal itu menorehkan luka di hati Midah, sekali hentak ia telah mejadi gadis kecil yang liar, beberapa hari ia mengurung diri di dalam kamar nya, ia malu terhadap orangtuanya, tetangga dan malu pada segalanya, terutama takut kepada bapaknya.


 Beranjak dewasa Midah dijodohkan oleh ayahnya yang seorang hadji dengan kenalannya yang seorang hadji juga, tentunya hal itu tidak patut bagi seorang midah yang telah menjadi liar oleh perasaan malu dan takut, Hadji yang diharapkan itu datang melamar ia punya sawah banyak , kerbau berpuluh-puluh, ibadah nya kuat. Midah dikawinkan dengan Hadji Terbus dari kampung Cibatok. Orangnya gagah, makmur, tegap, berkumis lebat dan bermata tajam, perut nya yang menonjol kedepan dan langkahnya yang tidak pernah berisi kebimbangan, menandakan ia seorang lelaki yang mahir dalam memerintah dan biasa hidup dalam kekayaan . Sayang Midah baru tahu istrinya sudah banyak ketika dia sudah hamil tiga bulan. Midah pun lari dari suaminya. Merasa tidak menemukan kedamaian dalam pernikahannya, Midah pun melarikan diri dari suaminya dengan membawa buah hatinya yang masih dalam kandungan.


Tetapi ia tak berani kembali kerumah orang tua nya, rumah babu lah yang menjadi tujuan nya yang pernah memberikan nya perlindungan terhadap pukulan bapak nya.


Lalu setalah berbincang Riah bekas babu nya itu pergi ke rumah orang tua midah dan menyuruh midah untuk tidur-tiduran di bale, sebenarnya Riau sudah tau bahwa kedatangan nya tidak akan diterima dengan baik apalagi berterimakasih.


Mula-mula Riau disambut dengan sikap tidak peduli , kemudian mulailah memberitahu kan maksud kedatangan nya bahwa anak nya bang Hadji si mudah Sekarag ada di Jakarta. 


Dan bapak nya midah pun marah Hingga Riah membisu dan tak dapat berkata-kata, lalu ia pun segera pulang , ia tak tau apa yang harus dikatakannya kepada midah, berulang ulang midah mempertanyakan apa perkataan bapak nya namun ia hanya bisa berdiam diri. 


Di sinilah konflik bermula disaat Midah yang terbiasa hidup berkecukupan sekarang meninggalkan semua kemewahannya dan hidup melanglang buana tanpa tahu harus tinggal dimana. Tidak berani langsung ke rumah orang tuanya, Midah menuju rumah Riah, pembantunya dulu. Riah menyampaikan kabar ini kepada haji Abdul. Reaksinya marah sehingga Midah terpaksa pergi.


Sejak pagi ia telah meminta diri dengan riah, berulang-ulang ia mengungkapkan terimakasih atas pertolongan riah , dan riah pun berulang-ulang pula berpesan bila terjadi halangan hendaknya segera datang kembali kepadanya,midah pun pergi. 


Glodok, pasar baru, Jatinegara, Senen, sawah besar , Tanah Abang, Priok, Berjam-jam ia mondar-mandir lalu midah pun bertemu dengan rombongan itu, suara midah yang begitu bagus lantas disukai tetapi Nini begitu cemburuan dan merasa kesal dengan midah lalu Nini pergi dari rombongan itu karena merasa kesal kepada mereka, ketika sedang bercakap-cakap dengan rombongan itu midah teringat dengan bapak nya an juga nasihat riah , midah pun merasa bingung, lalu seorang tukang gitar yang bermata satu mencoba menolong kebingungan midah.


Lihat lah , mata ku cuman sebelah dan di rombongan ini aku disebut Mak pecak, dan itu Min disini dia disebut Mimin kurus bahkan perempuan yang pergi tadi (Nini) disebut gobang bolong apalagi tukang gendang dul gendang dan engkau memang manis ( midah ) jadi kami sebut saja kau di manis dan Rois adalah kepala rombongan,setelah itu midah bergabung dengan sebuah kelompok pengamen keroncong, lalu suatu hari nini kembali bergabung dengan rombongan, hal ini sangat membuat midah senang. Dalam keadaan hamil Midah yang semakin lama perut nya semakin membesar, yang dipanggil si manis, ikut berkeliling untuk menyanyi. Di tengah kesulitan – tidak punya uang dan tidak punya suami- Midah melahirkan anaknya. Bidan dan karyawan rumah sakit memperlakukannya dengan sinis dan kejam. Ketika mau keluar, bayinya telanjang, tidak diberi pakaian apapun. Di penginapan tempat rombongan pengamen tidur dia disambut dengan dingin. Tapi kepala rombongan mau mengawininya. Midah bingung karena dia belum resmi cerai dan kegagalan perkawinan sebelumnya merupakan sebab utama ia membenci lelaki ia tidak ingin lagi menjadi istri orang . Dia menolak sehingga dia dibenci. Ketika sedang menyusui anaknya, Midah bertemu Riah. Midah tidak mau diajak pulang. Riah mengikuti dan melihat bagaimana anak mantan majikannya mengamen keliling. Untuk memenangkan persaingan dengan Nini penyayi lain di rombongan, Midah pasang gigi emas.


Akibatnya konflik menajam dan dia tinggalkan rombongan itu. Midah sangat menyayangi anaknya dan perjuangannya tak hanya sampai disitu. Midah tak kenal lelah, Midah sangat menyayangi anaknya dan perjuangannya tak hanya sampai disitu. Berita tentang Midah sampai ke Hadji Abdul yang sudah surut usahanya. Dia terguncang. Dengan sedih dicarinya Midah ke berbagai tempat. Sayang usahanya gagal sehingga dia jatuh sakit dan terbaring dirumah sakit,hingga dalam keadaan tidak sadar diri pun ia sampai mengigau anak dan cucu nya yang baru diketahui orang tua nya midah jika anak nya telah melahirkan anak yang merupakan cucu mereka bapak dan ibu nya midah, malam Hadji Abdul tenggelam dalam zikir,sebulan kemudian Hadji Abdul meninggalkan rumah sakit, ia mendapat keterangan dari dokter bahwa ia mempunyai penyakit jantung, dan sejak midah melarikan diri dari suami nya , menantu nya tak pernah datang mengabari kepada nya lagi, penyesalan yang telah dilakukan Hadji membuat nya sedih dan berharap anak nya midah kembali kepadanya , ibu nya midah berulangkali ke kantor polisi untuk menanyakan bagaimana hasil mereka dalam mencari anak nya.


Midah menyanyi di daerah Jatinegara, dan pada suatu hari ia sedang menyanyi di depot, depot orang Tionghoa, seorang memberikannya tepuk tangan, ia merasa malu karena baru pertama kali nya ia menerima tepuk tangan, dari depot lalu muncul lah polisi lalu lintas yang telah dikenal nya.


Hati Midah yang kosong akan hadirnya seorang laki-laki akhirnya menemukan sang pujaan hati, seorang polisi yang bernama Ahmad, dia yang dulu pernah membela Midah dari perlakuan kasar orang-orang di dalam rombongan keroncongnya. Kebetulan juga polisi ini juga menyukai seni musik dan memperkenalkan Midah pada dunia radio dan mengajak Midah menyanyi di sana. Hampir seriap hari dia melatih Midah menyayi, Ketika itu midah merasa kan perasaan cinta yang terpendam kepada ahmad tetapi ia masih belum berani mengungkapkan perasaan nya itu , Hinga suatu ketika dia ingin mengungkapkan perasaan nya tetapi Ahmad belum bisa menjawab atau menerima nya, lalu karena sudah malam pulang lah Ahmad setelah itu midab terduduk diam hati midah terasa sakit, dadanya sesak dan hanya bisa mengeluarkan air mata.


Midahyg bernyanyi radio, diketahui oleh tetangga nya dan langsung menemui istrinya Hadji Abdul atau ibu nya mudah itu, ditarik dan diajak nya ikut mendengarkan radio itu, ketika orang tuanya mendengarkan. Ibunya lantas mencarinya ditemani oleh anak tetangga nya pergi dengan menaiki beca, setelah sampai di kantor radio, dan langsung menanyakan kepada pegawai radio irama Bakri tersebut tetapi tidak diberitahu nya sehingga nyonya Abdul emosi dan anak tetangga yang bersama nya berkata berikan alamat nya dia ini adalah ibu nya yang sudah lama tidak bertemu dengan anak nya, lalu diberikan lah alamat midah, mereka langsung bergegas pergi menaiki beca dan dia temukan rumah Midah. 


Ketika dia datang hanya bertemu Rodjali anak Midah. Rodjali dibawanya pulang, nyonya rumah tempat midah tinggal menghalangi ibu nya itu tetapi dia berkata jika ingin menemui anak nya bilang saja datangi rumah orang tua nya , Balum sempat nyonya rumah itu berkata , ibunya midah langsung menarik Rodjali pergi dengan nya , Djali pangggilan nya yang dalam keadaan terus menangis di tengah malam menaiki Beca yang mereka tadi tumpangi dan pergi pulang 


Midah merasakan kedamaian di dekat sang polisi ini dan tanpa diragukannya lagi, Midah mencurahkan segala rasa yang dimilikinya kepada pujaan hatinya. Sampai-sampai Midah rela menyerahkan tubuhnya kepada sang pujaan hati, pada malam hari mereka berlarut dalam cinta mereka berdua. 


Suatu hari Midah sampaikan pada Ahmad bahwa dia sudah hamil. Saat Midah positif mengandung anak dari sang polisi ini, ia pun menyampaikannya dan meminta pengakuan atas sang jabang bayi ini, sungguh tak disangka reaksi dari pujaan hatinya, dia menuduh Midah sengaja menjebaknya dan mengatakan bahwa janin yang bersemayam dikandungan Midah bukanlah anaknya karena banyak laki-laki yang dekat pada Midah dan Midah dituduhnya yang tidak-tidak.


Bukan Midah namanya bila tidak tegar menghadapi semua ini, meskipun air mata bercucuran Midah hanya minta dikuatkan hatinya dan tetap berjuang mempertahankan buah cintanya dengan sang polisi. 


Lalu midah pulang dengan hati yang sangat kecewa , sakithati menangis di sepanjang jalan hingga air matanya telah kering, dipintu rumah ia disambut nyonya rumah dengan ucapan gopah-gapah mengatakan jika anak nya sudah diambil, tetapi midah yang terlalu larut dalam kesibukan dan kesedihan mengabaikan am tidak mendengar kan ucapan nyonya rumah hingga sampai ia di kamar baru sadar akan anak nya, dan nyoya rumah menceritakan jika tadi ibu nya datang menanyai ia dan membawa pulang anak nya Djali, midah yang berlarut dalam kesedihannya menceritakan semua akan masalah yang sudah dialami nya, ketika ia menceritakan bahwa ia telah dinodai oleh Ahmad dan lelaki itu tidak bertanggung jawab atas diri nya nyonya rumah dengan rasa dan hati yang marah menyuruh mudah untuk meninggal kan rumahnya. 


Akhirnya midah kembali ke rumah orang tuanya, dengan penyesalan yang mendalam akan kelalaian yang telah mereka lakukan terhadap anak nya midah, adik-adiknya yang sudah tertidur, midah dengan rasa takut mencoba memberanikan diri karena orang tua nya yang sudah mencoba menerima akan semua yang terjadi, jika midah telah berbadan dua atau bunting karena laki-laki yang sangat ia cintai tetapi lelaki itu pengecut dan tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, dan sekalipun Midah sudah kembali ke rumah orang tuanya, ia tetap merasa tak pantas untuk tinggal di sana karena kandungannya yang tak berayah akan menjadi hinaan orang bagi keluarganya. 


Midah pun memutuskan untuk pergi dari rumah orang tuanya tetapi ibu nya menghalangi kepergian nya tetapi pada akhirnya midah menitipkan anak pertamanya pada orang tuanya, supaya si anak mendapatkan perlindungan dan kasih sayang yang sepantasnya dia dapat. Midah tetap memutuskan untuk meninggalkan rumah dengan membawa anak keduanya yang belum lahir.


Setelah beberapa lama nama si manis bergigi emas tak pernah terdengar lagi di radio karena terhadap sang pujaan hati membawa Midah untuk mencari pelampiasan cintanya dari satu laki-laki ke laki-laki yang lain. Ironi sekali nasib yang dialami Midah.



Post a Comment

0 Comments