Ringkasan Materi Mata Kuliah Sejarah Sastra


Sejarah sastra adalah bagian ilmu sastra yang membicarakan perkembangan sastra dari mulai pertumbuhannya sampai saat ini.

Hal-hal yang menjadi pembahasannya yaitu:
- Perkembangan atau pertumbuhan suatu genre karya sastra.
- Periodisasi sastra ataupun Babakan waktu dalam perkembangan sastra.
- Perkembangan aliran yang ada di suatu periode.
- Karya-karya yang menonjol dan aliran yang mendasari atau mempengaruhi.
- Perkembangan dan pertumbuhan gaya bahasa dan model karya sastra.
-Kondisi sosial dan politik yang mempengaruhi perkembangan karya sastra.

Ciri-ciri sastra Indonesia: 
- Ditulis dalam bahasa Indonesia
- Masalah yang diungkapkan adalah masalah manusia Indonesia.
- Pengarangnya berbangsa Indonesia.

Munculnya sastra Indonesia.
Periodisasi sejarah sastra Indonesia adalah perjalanan atau perkembangan sastra dari munculnya sastra sampai periode terakhir. Dalam perjalanan sastra muncullah istilah periode angkatan dan pembabakan. menurut wellek (prodopo) perioderisasi sastra adalah bagian sebuah waktu yang dikuasai oleh sistem norma-norma sastra, standar standar norma konvensi sastra yang kemunculannya, penyebarannya, keberagamannya, integrasi dan menyiapkannya dapat di runut.

Pengertian sastra Indonesia menurut para ahli:
  • Selamat Mulyadi (Negara, 1945). "sastra Indonesia dimulai saat Indonesia itu sendiri merdeka".
  • Umar Yunus ( Bahasa, 1928) "bahwa sastra Indonesia itu ada setelah bahasa Indonesia itu ada".
  • Ayib Rosidi (1922) "sastra Indonesia itu muncul ketika semangat Indonesia ada".
Ciri-ciri periodisasi sastra Indonesia modern menurut Rachmat Djoko pradopo
1. periode Balai pustaka
 ini berarti lahirnya angkatan balai pustaka sekitar tahun 1920 an dan melemahnya dan hilangnya pada tahun 1940-an. Angkatan balai pustaka berdiri karena adanya suatu cita-cita yaitu memberikan pendidikan budi pekerti dan mencerdaskan hidup anak bangsa melalui bacaan. Karya-karya yang menonjol pada masa balai pustaka ini umumnya berupa roman seperti: salah pilih, hulubalang raja, katak hendak menjadi lembu, semuanya merupakan karya Nur Sutan Iskandar. Salah asuhan karya Abdul Muis, ni rawit dan Sukarni gadis Bali karya Panji Sutisna. Tenggelamnya kapal Van der Wijk karya Hamka.

Ciri-ciri struktur estetik dalam (intrinsiknya) periode Balai pustaka: 
1. Gaya bahasa, banyak mempergunakan gaya bahasa yang klise, patah petatah petitih, dan peribahasa namun mempergunakan bahasa percakapan sehari-hari dan dipadukan dengan gaya bahasa lama (hikayat).

2. Alur, sebagian besar jalur aman menggunakan alur lurus, namun ada juga yang menggunakan alur sorot balik (seperti: azab dan sengsara,dibawah lindungan Ka'bah).

3. Teknik penokohan dan perwatakan, pada umumnya banyak mempergunakan analisis langsung (direct autor analisis) dan deskripsi fisik; tokoh-tokoh pada umumnya berwatak datar.

4. Pusat pengisian pengisahannya, pada umumnya menggunakan metode orang ketiga (author omniscient) yang bersifat romantik ironik pelaku-pelaku cerita diperlakukan seperti boneka.

5. Banyak digresi, artinya banyak sisipan sisipan peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan inti cerita, misalnya uraian tentang adat-istiadat, dongeng-dongeng syair dan pantun nasehat.

6. Bersifat didaktis, berisi nilai-nilai nasehat kehidupan dan cenderung sangat menggurui.

7. Bercorak romantis, melarikan diri dan dari masalah kehidupan sehari-hari yang menekan.

Ciri-ciri ekstra estetik periode Balai pustaka: 
1. Masalah adat, terutama masalah adat kawin paksa, pemaduan, dan sebagainya.

2. Pertentangan paham antara yang tua yang mau mempertahankan adat lama dan yang muda menghendaki perubahan mengikuti pemikiran modern.

3. Latar cerita, pada umumnya latar daerah pedesaan, kehidupan daerah dengan adatnya.

4. Cerita masa kini, bukan menceritakan tempat, tokoh dan zaman antah berantah.

5. Cita-cita kebangsaan belum muncul, masih berkutat pada masalah bersifat kedaerahan.

2. Periode pujangga baru (1930-1945) 
pada periode PB ini sesungguhnya para penyair telah menulis puisi sejak tahun 20-an namun baru sekitar tahun 1930-an baru menunjukkan ciri-ciri periode atau angkatan yang kuat misalnya pada Indonesia tumpah darahku karya Muhammad Yamin (1929), madah kelana karya Sanusi pane (1931). Angkatan ini dinamakan angkatan pujangga baru, merupakan integrasi dari nama majalah pujangga baru (1933). Angkatan PB memiliki kesamaan cita-cita yang hendak diperjuangkan yaitu membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan.

Karya-karya penting atau menonjol periode pujangga baru. Pada periode pujangga baru ini jenis sastra puisi yang sangat dominan bahkan pada masa ini muncul seorang penyair yang dijuluki raja penyair pujangga baru yaitu Amir Hamzah.

Karya puisi: nyanyi sunyi (1937), buah rindu (1939) keduanya karya Amir Hamzah.
Rindu dendam 1935 karya J.E Tatengkeng, madah kelana 19 31, percikan pemenungan (1934) keduanya karya Sanusi panik, Indonesia tumpah darahku (1929) karya Muhammad Yamin. 

Karya prosa dalam (roman): layar terkembang (1936), tebaran Mega karya STA Sandhyakalaning Majapahit (1933), drama karya Sanusi pane, belenggu (1940) karya Armin pane, bebasari karya Rustam Effendi.

Pada umumnya karya-karya pada masa PB ini baik puisi dan prosanya beraliran romantis, karena pengaruh yang begitu besar dari gerakan 80 dari negeri Belanda. 

Perbedaannya: angkatan 80-an mengutamakan unsur estetis yang murni sedangkan PB lebih mengutamakan unsur tujuan sosial yang jelas. Angkatan 80-an lebih menonjolkan sifat individualisme dan berkesenian, sebagian dari pengarang pujangga baru justru menolak individualisme dalam berkesenian.

Persamaannya: keduanya menentang sastra sebelumnya. PB menentang sastra Melayu klasik, angkatan 80-an menentang sastra domine (kependetaan). Di dalam usahanya mencari pengucapan yang baru keduanya mencari contoh dari luar. Mendapat pengaruh yang kuat dari angkatan 80-an negeri Belanda, sedangkan angkatan 80-an mendapat pengaruh dari sastra Inggris dan Perancis.

Pujangga baru sebagai aliran kebudayaan:

1. Pembentukan kebudayaan baru menurut STA
Menurut STA untuk membentuk kebudayaan baru kita harus menoleh dan mengambil unsur-unsur. Karena unsur-unsur barat inilah yang akan membuat bangsa menjadi dinamis dan maju. bangsa barat dapat maju, karena memiliki sifat dinamis, individualis, materialistis dan intelektualisme.

2. Pembentukan kebudayaan baru menurut Sanusi pane.
Menurut Sanusi pane untuk membentuk kebudayaan baru kita justru harus menengok budaya timur. Unsur kebudayaan timur ini dilambangkan dalam tokoh Arjuna yang memiliki sifat kolektivitas, spiritualisme, dan perasaan yang halus. unsur kebudayaan barat menurut Sanusi pane dilambangkan sebagai tokoh faust, Karena itulah kebudayaan baru menurut Sanusi pane merupakan gabungan tokoh faus dan Arjuna.

3. Pembentukan kebudayaan baru menurut Armin pane.
Menurut Armin Pani di dalam membangun kebudayaan baru, kita bebas mengambil unsur kebudayaan mana saja, asal sesuai dengan garis pertumbuhan kebudayaannya sendiri.

Asal atau konsep seni beberapa tokoh pujangga baru.

Pada periode pujangga baru ini asas atau konsep seni nya terbagi menjadi dua yaitu ada beberapa tokoh yang mengutamakan asas"seni untuk seni" dan ada beberapa tokoh yang "condong seni untuk masyarakat" (seni bertendes).

Asas seni Sultan takdir Alisahbana (STA)
Menurut STA, keindahan adalah alat yang dijelekan agar karya seni lebih menarik dan lebih mudah diresapi masyarakat. STA lebih mengutamakan seni bertendens yang memberikan manfaat didaktif kepada masyarakat, karena itulah STA sangat menolak konsep "seni untuk seni". Penolakan pesta ini terutama dapat terlihat ketika mengkritik belenggu karya armin dan sandhyakalaning Majapahit dalam karya Sanusi pane. Menurut STA, roman belenggu dinilai sebagia Defaitistis dan deterministis. sedangkan sandyakalaning Majapahit dianggap dapat melemahkan hati karena didalamnya mengandung unsur filsafat Buddha ia menganggap kebahagiaan itu dapat dicapai di nirwana bukan di dunia ini.

Asas seni Sanusi pane
Untuk memahami asas seni Sanusi pane kita harus memahami filsafat yang dianut unio mistika ya itu filsafat yang menekankan adanya penyatuan yang mesra dengan seluruh alam titik berdasarkan filsafat itu Sanusi pane menolak seni yang dijadikan alat propaganda kepentingan di luar seni dan seni juga bukan hanya sekedar keindahan saja dan mengabaikan nilai susila serta kemajuan dunia. Inti asas seni Sanusi pane merupakan perpaduan antara seni untuk seni dan seni untuk masyarakat.
Sejarah sastra adalah bagian ilmu sastra yang membicarakan perkembangan sastra dari mulai pertumbuhannya sampai saat ini.

Hal-hal yang menjadi pembahasannya yaitu:
1. Perkembangan atau pertumbuhan suatu genre (generasi) contohnya: perkembangan novel, puisi, drama.

2. Periodisasi sastra atau pembabakan waktu dalam perkembangan sastra.

3. Karya-karya yang menonjol dan aliran yang mendasari atau mempengaruhi.

4. Perkembangan dan pertumbuhan gaya bahasa dan model karya sastra.

5. Kondisi sosial dan politik yang mempengaruhi perkembangan karya sastra.

Ciri-ciri sastra Indonesia
Ditulis dalam bahasa Indonesia, masalah yang diungkapkan adalah masalah manusia Indonesia, pengarangnya berbangsa Indonesia, Sastra daerah Kamasan store terjemah, sastra saburan.

Munculnya sastra Indonesia
Periodisasi sejarah sastra Indonesia adalah perjalanan atau perkembangan sastra dari munculnya sastra sampai periode terakhir. Dalam perjalanan sastra muncullah istilah periode angkatan dan pembabakan. Menurut Wellek (Pradopo) angkatan atau pembabakan adalah bagian sebuah waktu yang dikuasai oleh sistem norma norma sastra, standar-standar norma konvensi sastra yang kemunculannya, penyebarannya, keberagamannya, integrasi dan kelengkapannya dapat diruntut.

Pengertian sastra Indonesia menurut para ahli:
1. Slamet Mulyana (Negara, 1945) berpendapat bahwa sastra Indonesia itu dimulai saat Indonesia merdeka.

2. Umar yunus (bahasa, 1928) berpendapat bahwa sastra Indonesia itu ada setelah bahasa Indonesia itu ada.

3. Ayip Rosidi (1922) berpendapat bahwa sastra Indonesia itu muncul ketika semangat Indonesia ada.

Pendapat beberapa ahli mengenai sejarah sastra.
1. H.B Jassin dibagi menjadi dua yaitu:
a. sastra Melayu
b. sastra Indonesia modern memiliki empat babak yaitu:
- angkatan 20 balai pustaka,
-angkatan 33 pujangga baru,
-angkatan 45 
-angkatan 66 sampai sekarang

2. Bakri Siregar, ada empat periode:
a. Periode pertama, abad 20 sampai 1942 
b. periode kedua, 1942 sampai 1945 
c. periode ketiga 1945 sampai masa revolusi
d. Periode keempat, 1950 sampai sekarang

3. Pendapat Ayip Rosidi
MK dan MP (masa kelahiran dan masa penjadian)
- periode awal 1933 
- periode 1933 sampai 1942
- periode 1945 sampai 1945
Masa perkembangan (1945 sampai sekarang)
-periode 1945 sampai 1953
-periode 1953 sampai 1961
-periode 1961 sampai sekarang

4. Rachmat Djoko pradopo
- Periode balai pustaka (1920 sampai 1940) 
-periode pujangga baru (1930 sampai 1945) 
- periode angkatan 45 (1945 sampai 1955) 
- periode angkatan 50 (1950 sampai 1970)
- periode angkatan 1970 (1965 sampai sekarang)

5. Zul arah Nur, 
menyimpulkan periodisasi sastra sebagai berikut:
a. SNK (SASTRA NUSANTARA KUNO)
-periode sastra Nusantara kuno 
-periode sastra Nusantara Hindu 
-periode sastra Nusantara Islam
b. SIM (sastra Indonesia modern) 
-periode tahun 20-an (BP)
-periode tahun 1930 (PB)
- periode tahun 45 (Angkatan 45)
- periode ke-50-an (angkatan 50/angakatan 60)
- periode ke-70-an (angkatan 70)
- periode 2000

Kelemahan beberapa pendapat mengenai sejarah sastra.

1. H.B Jasin, dimana sastra yang diluar wilayah Melayu? kemudian selain sastra Melayu Sastra daerah lain yang tidak masuk dianggap tidak ada contoh sastra Jawa.

2. Bakti Siregar: Bagaimana dengan sastra yang di luar abad ke-20.

3. Ayip Rosidi: kemana periode sastra sebelumnya sebelum tahun 90.

Tujuan balai pustaka adalah untuk memberikan pendidikan budi pekerti dan mencerdaskan anak bangsa melalui bacaan (untuk pendidikan).

Sedangkan tujuannya pujangga baru adalah untuk membentuk kebudayaan baru bangsa Indonesia.

Karya sastra itu berupa bentuk dan isi. 
Isi adalah apa yang dibicarakan. Sedangkan bentuk adalah cara penyampaiannya.

  • STA lebih mengutamakan isi. 
  • Sanusi pane lebih mengutamakan seni untuk seni. Yang di mana lebih mengeksplorasi bentuk dari karya seni tersebut.
  • Armin Pane lebih ke puisi lama yang terkait pada bentuk.
  • Khairul Anwar dan Amir Hamzah sama seperti admin Fani tapi masih terikat ke puisi lama.

Kelemahannya: menurut STA dan Sanusi pane "god is dead (tuhan itu mati)" alias tidak mengenal Tuhan (individualis individual materialistis serta hilangnya sisi kemanusiaan).

Angkatan Jepang 1940-1945
Jepang mendirikan keimin buhka sidoso (pusat kebudayaan). Yang berfungsi untuk menampung karya-karya penulisan Indonesia yang perlu kepada Jepang. yang di mana apapun bentuknya itu harus berpihak kepada Jepang (yang pro) sedangkan kalau yang kontra maka karyanya akan jarang dipublikasikan di
keimin buhka sidoso. 

Karakter sastra pada masa Jepang:
  • Berdandan, sastra angkatan 45 sebagai penanda waktu kemerdekaan negara 1945 sampai 1955
  • Pengertian dalam bidang politik
  • Pengertian dalam sastra dan seni masa Khairul Anwar, karena pada masa Khairul Anwar itu sosok yang paling penting.

Periode 70-an pada tahun 1965 sampai 1970.
Angkatan ini merupakan angkatan dengan ledakan kreativitas yang luar biasa melebihi angkatan 45.

Tokoh-tokoh penting pembaharuan angkatan 70-an.
- puisi SCB "puisi mantra", Sapardi Joko Darmono (SJD), Gunawan Muhammad (GM), Yudistira Adi Nugraha (YAN), Damarto Yarman (DY).

- Prosa: danarto, Budi Darma (BD), Iwan Simatupang (Is), Putra Wijaya (PW), Manu Wijaya (MW), Umar khayang (UK)

- Cerpen: is, pw, Danarto. (Putu Wijaya tidak menulis puisi).

Novel karya Iwan Simatupang : ziarah, merahnya merah, kering, ko'ong.

Novel karya Putu Wijaya: sobat, stasiun, dll.

Keunikan tokoh dalam karya Budi Darma dan Iwan Simatupang yaitu tokoh-tokohnya bukan manusia manusia yang terbuat dari darah dan daging tetapi merupakan tokoh-tokoh dari ide.

Keunikan tokoh karya iwan Simatupang yaitu kebanyakan tokohnya merupakan tokoh kita.
Iwan sama tupang manusia Merdeka manusia (eksensialis).

Danarto konsep puisinya gado-gado (berbagai bahasa).

Post a Comment

0 Comments